Profil Yang Perlu diteladani warga Muhammadiyah

Hikmah :

Baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, menyampaikan , “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”

Lewat terobosan yang dilakukan, ia berhasil mengentaskan jutaan orang miskin yang tadinya menjadi budak kaum tengkulak. Atas keberhasilannya, ia dianugrahi Nobel Perdamaian 2006.
number27.org

Di negerinya, ia disebut pahlawan kaum papa. Bukan hanya karena kepeduliannya yang tinggi, tapi juga langkah kongkretnya untuk “memerdekakan” mereka. Dialah Muhammad Yunus, kelahiran Bangladesh, 1940.

Ia berhasil menyisihkan para kandidat kuat lainnya. Seperti mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari yang berjasa meredakan konflik Aceh. Atau mantan Menteri Luar Negeri Australia Gareth Evans yang berjasa merekonstruksi Kamboja dan Vietnam. Juga aktivis etnik Uighur, Rebiya Kadeer, yang membongkar penyiksaan orang Uighur di barat daya Xinjiang. Termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Terpilihnya Yunus memang cukup mengagetkan. Pertama, karena sosoknya. Sebelum penganugerahan Nobel, tak ada yang menyangka ia akan terpilih. Namanya tenggelam di antara kandidat lain yang telah populer. Dia hanyalah seorang pengajar sebuah universitas di negara dengan angka kemiskinan sangat tinggi, Bangladesh. Kedua, karena kategorinya. Banyak orang bertanya-tanya, kenapa Yunus tak dianugerahi Nobel Ekonomi mengingat aktivitasnya bertaut langsung dengan praksis ekonomi? Lalu, apa hubungan antara aktivitas Yunus dengan perdamaian?

Kekagetan itu sangatlah wajar mengingat selama ini, Nobel Perdamaian diberikan kepada mereka yang terlibat langsung dalam upaya perdamaian. Seperti meredakan konflik horisontal yang cenderung berujung pada pemusnahan massal. Namun demikian, kekagetan itu segera terjawab kalau mau menelisik sosok Yunus. Selain seorang profesor ekonomi, ia adalah seorang praktisi yang berhasil mengangkat jutaan kaum miskin untuk hidup layak. Ia juga seorang pionir program-program ekonomi yang kerap menjadi program percontohan pemerintah Bangladesh.

Tak hanya itu. Sejatinya, aktivitas Yunus sangat erat terkait dengan perdamaian. Ia malah berhasil menyentuh akar persoalannya, yakni kemiskinan. Atas pertimbangan itulah, Ketua Komite Nobel, Ole Danbolt Mjoes, tak ragu untuk memilihnya. Hal senada juga diungkap Asle Sveen, seorang sejarawan Norwegia. Ia mengatakan, mengupayakan perdamaian tidaklah cukup. Perdamaian haruslah merupakan sebuah perdamaian yang berkeadilan. Dan, salah satu akar untuk mencapainya adalah memerangi kelaparan dan kemiskinan. Dengan kata lain, sesungguhnya Yunus berhasil menciptakan perdamaian melalui pengentasan kemiskinan.

***

Kiprah Yunus untuk memberdayakan kaum papa Bangladesh bermula sejak 1974. Kala itu, sebagai profesor ekonomi di Universitas Chittagong, ia mengajak para mahasiswa turun ke bawah, meneliti desa-desa miskin di Bangladesh. Namun, apa yang terjadi? Di sana, Yunus terperangah. Ia menyaksikan warga miskin berjuang mengatasi kelaparan yang telah menewaskan ratusan ribu orang. Melihat itu, ia merasa berdosa. Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, ia malah sedang asyik masyuk mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan. Sungguh ironis.

Kenyataan itu membuka mata Yunus. Ia bertekad untuk membebaskan kaum papa di negerinya. Tekad itu kian bulat setelah mengetahui seorang perempuan perajin bambu, Sufia, menjadi budak tengkulak karena bolak-balik utang uang 5 taka atau kurang dari Rp. 850. Dan ia harus mengembalikan utang tersebut berikut bunganya sebesar Rp 184. Kenyataan itu berlangsung terus-menerus. Hal itu tak bisa diterima Yunus. Bayangkan, hanya karena uang Rp. 850, seseorang harus menjadi budak.

Sebagai langkah kongkret, ia pun membantu Sufia dan para perempuan perajin bambu itu dengan memberi modal sebesar US$ 27 (sekitar Rp. 243.000 dengan kurs sekarang). Mereka sangat antusias menerima bantuan itu. Maka, Yunus tambah yakin bahwa jika orang miskin diberi akses kredit sebagaimana orang kaya, mereka pasti bisa mengelolanya dengan baik. Dan, perkiraaan Yunus tepat. Program kredit mikro yang digulirkannya terus berkembang.

Tak lama berselang, Yunus mulai mengembangkan program kredit mikro tanpa agunan bagi kaum papa. Program itu seolah menjadi semacam gugatan Yunus terhadap ketidakadilan global atas kaum tak berpunya. Lembaga keuangan besar yang mestinya turut membantu, justru kerap menolak mereka. Akhirnya, mereka pun tidak dapat mengakses pinjaman bank. Padahal, mereka sangat membutuhkan dana untuk dijadikan modal.

Tak hanya itu, ia juga mengembangkan proyek yang disebut “Thebaga Khamar” (ladang dengan tiga pemilik). Program itu nantinya diadopsi pemerintah sebagai Program Masukan Terpadu. Untuk menyokong program itu, ia pun membuat Gram Sarkar (pemerintahan desa).

Tahun 1976, lembaga kredit mikro ia sulap menjadi sebuah bank formal bernama Bank Grameen, atau Bank Desa dalam bahasa Bengali, di desa Jobra. Berbeda dengan bank-bank konvensional, Bank Grameen melakukan tiga gebrakan sekaligus. Pertama, merubah paradigma pengelolaan bank. Selama ini, bank-bank konvensional berpaku pada paradigma semakin banyak yang dimiliki seseorang, semakin banyak yang bisa didapatkan. Demikian sebaliknya. Bagi Yunus, paradigma ini turut membuat lebih dari separuh penduduk bumi mengalami pemiskinan lewat produk-produk keuangan yang disediakan perbankan konvensional.

Gebrakan kedua adalah menjadikan kesempatan mendapatkan kredit bank sebagai bagian dari hak asasi manusia. Karena itu, untuk mencairkan dana tidak tergantung pada seberapa banyak aset calon nasabah dan jaminan (kolateral) yang bisa diajukan. Melainkan seberapa potensial seorang calon nasabah bisa berkembang. Dengan dasar itu, maka, pengemis pun berhak mendapatkan kredit, sepanjang mereka tidak mempunyai catatan kriminal.

Gebrakan ketiga adalah soal kepemilikan. Kalau bank konvensional biasanya dimiliki oleh kaum berduit dan berjenis kelamin lelaki, maka Grameen dimiliki oleh perempuan miskin. Yunus memang sangat jeli melihat potensi kaum perempuan. Hingga Grameen pun memberikan beasiswa pendidikan kepada anak-anak nasabah yang berprestasi tinggi, terutama anak perempuan. Gebrakan ala Yunus itu ternyata sangat revolusioner. Perlahan tapi pasti, angka kemiskinan di Bangladesh menurun drastis.

Lalu bagaimana para nasabah membayar pinjaman yang didapat? Untuk menjamin pembayaran, Bank Grameen menggunakan sistem yang disebut ‘grup solidaritas’. Grup itu adalah sebuah kelompok kecil yang bersama-sama mengajukan pinjaman. Di situ, ada anggota yang bertindak sebagai penjamin pembayaran. Mirip pinjaman bergilir, ketika satu anggota telah berhasil mengembalikan pinjaman, akan digunakan oleh anggota lainnya.

Keberhasilan kredit mikro itu memacu Yunus dan Bank Grameennya untuk memperluas cakupan pemberian kredit. Maka diluncurkanlah Kredit Pinjaman Rumah (KPR), proyek irigasi, pinjaman untuk usaha tekstil, dan usaha lainnya.

Pada akhir 2003, Bank Grameen meluncurkan program baru, yang membidik para pengemis. Program itu bernama “The Struggling (Beggar) Members Program”. Program ini merupakan kampanye berkelanjutan dari pengentasan kemiskinan. Itu dibuat karena program yang sudah ada, yakni program kredit mikro, tidak bisa diterapkan kepada para pengemis.

Dari program itu, para pengemis mendapat pinjaman rata-rata sebesar 500 taka atau setara US$ 9. Pinjaman itu tidak dikenai bunga dengan waktu pembayaran fleksibel. Syaratnya, pinjaman harus dikembalikan dari hasil pekerjaan mereka dan bukan dari mengemis. “Kami berupaya menaikkan harkat selain tentunya meningkatkan kemampuan ekonomi mereka,” kata Yunus. Mereka juga dilindungi asuransi jika terjadi kematian.

Kini, program pengentasan Yunus telah berkembang pesat. Pilot project-nya, Bank Grameen, sudah memiliki 2.247 cabang di 71.371 desa dan mampu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan. Nasabahnya mencapai 6,6 juta orang. Lengan bisnisnya pun kian lebar, mencakup 17 perusahaan. Mulai dari penyediaan telepon seluler bagi pekerja perempuan di daerah terpencil, sampai upaya memopulerkan pakaian tradisional Bangladesh, Grameen Check.

Atas kiprahnya dalam memerangi kemiskinan, Yunus telah dianugerahi beberapa penghargaan, baik nasional maupun internasional. Di Bangladesh, ia menyabet the President’s Award (1978), Central Bank Award (1985), dan The Independence Day Award (1987). Di kancah internasional, selain Nobel, ia malah telah menyabet sekitar 53 penghargaan. Di antaranya, the Ramon Magsaysay Award (1984) dari Manila, the Aga Khan Award for Architecture (1989) dari Jenewa, the Mohamed Shabdeen Award for Science (1993) dari Sri Lanka, the World Food Prize by World Food Prize Foundation (1994) dari Amerika, dan sebagainya. Tentunya, Nobel Perdamaian menambah koleksi penghargaannya.

Namun demikian, anak ketiga dari 14 bersaudara itu tak lupa diri. Ia sadar, Nobel itu ia peroleh bukan karena dan untuk dirinya sendiri. Melainkan untuk dinikmati bersama dengan kaum papa bangsanya. Sebagai bukti, hadiah sebesar US$ 1,36 juta (sekitar Rp 12,5 milyar), akan dipakai untuk proyek makanan bergizi dan murah. Juga untuk perawatan mata, pengadaan air minum, serta pelayanan kesehatan. (M. Khoirul Muqtafa)

* Disalin dari Majalah Nebula (eks ESQ Magazine) edisi 01/Tahun III/2006

sumber :

http://esq-news.com

 

 

 


Categories: Pendidikan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: