Brantas Virus Liberalisme Di Tubuh Muhammadiyah

JAKARTA (VoA-Islam) – Bukan rahasia umum, jika Muhammadiyah telah kerasukan virus liberalisme. Padahal sejak awal berdiri, Muhammadiyah tampil sebagai tajdid (pembaharu) yang ingin mengembalikan Islam secara murni, yakni kembali pada Al Qur’an dan As-Sunnah. Demikian dikatakan Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr. Syamsul Hidayat.

”Anggapan orang tentang masuknya virus itu ada benarnya. Karena orang masuk Muhammadiyah macam-macam motivasinya. Ada yang tertarik Muhammadiyah karena betul-betul ingin berjuang untuk Islam, dan menjalankan misi Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid, kembali pada Al Qur’an dan As-Sunnah. Ada pula yang tertarik, karena Muhammadiyah sebagai organisasi yang besar dan modern.”

Ada kesan warga Muhammadiyah mengalami pergeseran dalam mengemban misinya. Benarkah? ”Secara hakikat tidak bergeser. Namun harus diakui, ada orang yang bergabung di Muhammadiyah, tapi kemudian membawa paham dari luar. Padahal kalau sudah masuk Muhammadiyah, harus menyesuaikan paham dan misi Muhammadiyah yang asli,” ungkap Syamsul.

Virus ”menular” ini sesungguhnya sudah tertanam sejak dilakukan kaderisasi di setiap badan otonom ormas Islam. Mereka adalah mahasiswa semester awal yang sedang ”genit-genitnya” memasuki masa ”puberitas intelektual”.

Terbetik kabar, bahwa kaderisasi yang ada di setiap badan otonom ormas Islam sudah dikuasai oleh mentor pengusung doktrin liberal. Tapi hal itu dibantah oleh Yunahar Ilyas dari Majelis Tabligh PP Muhammmadiyah. ”Itu tidak betul, ungkapan itu datang dari luar Muhammadiyah. Saya sering kok jadi mentor saat pengkaderan di IRM.”

Di Muhammadiyah sendiri, ada beberapa badan otonom (banom) kaderisasi, seperti Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah (PM), maupun Nasyiatul Aisyiyah (NA). Belakangan, muncul JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah). Meski JIMM secara kelembagaan tidak diakui sebagai badan otonom resmi Muhammadiyah.

Sedangkan di NU, ada Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Gerakan Pemuda Anshor, Ikatan Pelajar Putri NU, Fatayat NU, dan Lakspedam NU. Adapun PMII secara kelembagaan tidak terikat dengan struktur di organisasi NU. Tapi mendukung kebijakan-kebijakan NU.

Di luar ormas Islam, ada banyak organisasi kemahasiswaan yang selama ini juga melakukan tugas dan fungsi pengkaderan terhadap orang-orang muda. Sebut saja seperti Formaci (Forum Mahasiswa Ciputat), Jaringan Islam Kampus (JIK), Generasi Muda Antar Iman (GMAI), Interfidei, Forum Mahasiswa Syari’at se-Indonesia NTB, Muslim Institut Medan, PUSHAM UII Yogjakarta, dan sebagainya.

Virus Liberalisme

Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Dr. Syamsul Hidayat mengatakan, ”Kebekuan berpikir di Muhammadiyah itu tidak sepenuhnya benar. Mungkin ada sebagian yang terlalu kaku. Sehingga terkesan kolot. Itu akibat, tidak menempatkan Islam pada posisinya. Mungkin yang terlalu kaku dianggap ketat, atau liberal yang dinamis, dianggap terlalu dinamis.”

Pergeseran Muhammadiyah ke arah dinamisasi dan liberalisasi pemikiran Islam itu sudah terjadi pada periode Amien Rais melalui Muktamar Aceh 1995. Kader Muhammadiyah seperti Amin Abdullah-lah yang menjadi ideolog liberalisasi pemikiran Islam. Ia ditetapkan sebagai Ketua Majelis Tarjih, yang sejak saat itu lembaga ini diperlebar sayapnya menjadi “Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam”. Ideologi ”Muhammadiyah liberal” mulai berkibar.

Kejayaan Muhammadiyah liberal makin terang benderang di bawah kepemimpinan Syafi’i Ma’arif—murid pemikir muslim liberal asal Pakistan, Fazlur Rahman, di universitas Chicago. Kader-kader mudanya diberi ruang gerak yang sebebas-bebasnya untuk menafsirkan Islam secara progresif dan liberal.

Sukidi Mulyadi, aktivis JIMM pernah mengatakan, “Buya Syafi’i adalah Imam kami yang muda-muda di Muhammadiyah, yang sekaligus dikagumi kawan baik kita di JIL. Di Muktamar, Buya Syafi’i-lah yang secara terbuka melakukan pembelaan terhadap anak-anak muda Muhamadiyah. Buya Syafi’i telah menjadi simbol keteladanan dalam banyak hal dalam kesederhanaan hidup, kerendah-hatian sikap, moralitas yang ia perjuangkan, dan moderasi keberislaman. Kepada Buya Syafii-lah, kami menunjukkan rasa hormat setinggi-tingginya.”

Ada target jangka panjang, jika kaderisasi berhasil mereka rangkul dan kuasai, yakni: mencetak regenerasi. Setidaknya, ada pengikut dan pendukung figur yang akan dijagokan dalam pergantian kepemimpinan nantinya. Ketika virus liberalisme menyerbu semua lini, Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, seperti dikatakan Syamsul Hidayat, berupaya untuk mengerem dan membentenginya.

”Majelis Tabligh kini gencar mengembangkan program Pelatihan dakwah & tantangan pemikiran kontemporer bagi mubaligh di lingkungan Muhammadiyah. Yang jelas, paham liberalisme tidak cocok dengan Muhammadiyah.”

Menurut Syamsul, virus liberalisme masuk ke Muhammadiyah dengan iming-iming tertentu, seolah-olah datang membantu. Pengusung liberalisme itu datang membagi dana, menyebar buku gratis, menggelar berbagai seminar dengan cuma-cuma, diakomdasi pula berupa transportasi pulang pergi, plus penginapan hotelnya. ”Sementara training ala manhaj Muhammadiyah malah membayar infaq. Jadi, kami jihad bi anwal wa anfus.”

Ingat, pendiri Muhammadiyah KH. Achmad Dahlan pernah berpesan, hidupkanlah Muhammadiyah, jangan mencari hidup dari Muhammadiyah. ”Tapi seorang dosen yang mendapat gaji dari mengajar, jangan dibilang mencari hidup dari Muhamadiyah. Mereka bekerja secara profesional dan justru menghidupkan Muhammadiyah. Yang penting bukan materi yang berifat keduniawi-an saja. Sangat disesalkan jika ada warga Muhammadiyah bermental miskin, bisa diiming-imingi dengan dollar,” tukas Syamsul.

Bersihkan Noda Liberal

Bersih-bersih noda liberalisme sudah dilakukan Muhammadiyah. Barisan anti-liberalisme mewarnai suasana Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Univesitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur. Di ruang muktamar, terdengar pandangan umum yang memohon pimpinan pusat agar “menertibkan” pemikiran liberalisme dalam Muhammadiyah. Terpentalnya sayap pemikir muslim liberal seperti Prof. Munir Mulkhan dan Prof. Dr. Amin Abdullah dari formatur 13 besar pimpinan Muhammadiyah dinilai sebagai kemenangan anti-liberalisme.

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Lampung bahkan mempertanyakan keberadaan JIMM yang mereka sejajarkan dengan JIL. Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas pernah mengatakan, organisasi dalam Muhammadiyah harus ditanwirkan atau dimuktamarkan. “Jaringan itu berlawanan dengan Muhammadiyah,” kata Yunahar ketika itu.

JIMM pernah berpendapat, jika Din Syamsuddin sukses menyokong pluralisme, Muhammadiyah akan menjadi kekuatan luar biasa sebagai “laboratorium pemikiran” yang mencerahkan umat dan bangsa.Desastian

sumber :

http://www.voa-islam.com

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: